Media Bikin Kita Gagal Paham Ujaran Kebencian


Baru Februari, tapi udah ada empat kasus ujaran kebencian di Indonesia Pertama, ada Zikria Dzatil yang diperkarakan Pemkot Surabaya Setelah nyebut Tri Rismaharini sebagai “kodok betina”. Itu, hinaan yang kasar, sih. Tapi, dilaporinnya tuh pake ujaran kebencian Terus ada Muhammad Sadli. Wartawan Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara, yang dilaporin Bupati Buton Tengah (Buteng) karena beritanya yang ngebahas soal kejanggalan proyek Pemda Buteng Juga pake ujaran kebencian dilaporinnya Abis itu ada Melianus Dwitau, mahasiswa yang ditangkap Polda Papua setelah menyebut Kapolda Papua telah menyebarkan hoaks Ditangkep juga pake Ujaran Kebencian Terakhir, ada Muhammad Asrul, wartawan Beritanews yang ditangkep gara-gara ngeberitain dugaan kasus korupsi di Kota Palopo Pake ujaran kebencian juga Dari “kodok betina”, ke pemberitaan wartawan ke postingan hoaks — semuanya dari lingkup yang berbeda Tapi, semuanya sama-sama dilaporin pake ujaran kebencian Emangnya, ujaran kebencian ini apa sih? Apa semua kasus tadi beneran bentuk ujaran kebencian? Dan, kenapa dunia ini penuh sekali dengan kebencian gitu, ya biarpun valentine haram (kata Pemda Depok) tapi kenapa sih gak enakan mencinta aja gitu daripada membenci? Lagi Gabut (suara sok sexy) Sebenernya, pemberitaan wartawan, tuduhan hoaks ke mahasiswa, atau penghinaan ke Risma, itu gak serta merta bisa dibilang ujaran kebencian Serius deh, ujaran kebencian tuh lebih rumit dibanding sekedar hina-hinaan kayak jaman kita SD atau Boomer yang sakit hati karena dituduh hoaks sama mahasiswa Sederhananya, ujaran kebencian atau hatespeech itu segala bentuk tindakan mempromosikan kebencian secara terbuka terhadap satu kelompok masyarakat Ujaran kebencian ini berpotensi bikin orang lain melakukan diskriminasi ataupun kekerasan Sedangkan, Kelompok yang dimaksud dalam definisi tadi tuh kayak ras, agama, etnis gender, ataupun orientasi seksual Contoh realnya, misalnya waktu sejumlah orang ngusir mahasiswa Papua di Surabaya Pengusiran ini diawali dengan ajakan pengusiran yang disertai dengan penghinaan Ujaran ini menimbulkan kekerasan yang ditujukan kepada kelompok etnis, yaitu mahasiswa Papua makanya dia jadi valid sebagai ujaran kebencian Terus, ujaran kebencian ini sebenernya buat apa sih? Sebenernya, ujaran kebencian ini prinsipnya adalah untuk melindungi kebebasan berpendapat Kita gambarin misalnya pake satu cerita singkat, deh Waktu 1976 tuh, orang-orang PBB pada ngumpul buat ngomongin hak-hak sipil terus salah satunya adalah hak kebebasan berpendapat Di situ, semua setuju kalo Semua orang boleh berpendapat tanpa diganggu Tapi, abis itu ada yang nyeletuk tuh “Cuy, gimana kalo ada orang yang punya pendapat: bahwa orang dengan identitas tertentu ga boleh berpendapat” Untuk melindungi kebebasan berpendapat secara utuh, semua akhirnya menyetujui kalau ada pendapat-pendapat yang berbahaya dan bisa ngerusak hak berpendapat orang lain Konsep ujaran kebencian akhirnya ada untuk menamai pendapat-pendapat destruktif tersebut Tapi, gimana konsep ujaran kebencian sampe dipake asal-asalan di Indonesia? Dugaan kami sih, karena selama ini ga pernah ada yang mengkritisi penyalahgunaannya gitu Pasal ujaran kebencian sering banget dipake secara fals Ga nyambung. Udah ga nyambung, ga ada yang negor juga. Media sebenernya punya peran yang besar nih dalam mengkritik penyalahgunaan hukum Tapi, bukannya menegur, media malah ikutan nyanyiin dengan nada yang fals juga Ketika ada pelaporan satu kasus menggunakan pasal ujaran kebencian secara asal-asalan media kita malah cuma nyatet pelaporan atau penangkapannya aja. Ini berbahaya! Ketika media cuma nyatet soal pelaporan atau penangkapannya aja Ya perspektif yang ada di beritanya cuma perspektif pelapor aja Berita akhirnya cuma nguntungin pelapor yang gunain pasal ujaran kebencian secara asal-asalan Misalnya, masih banyak media-media yang judulnya aja udah bilang kalo Zikria Dzatil itu sebagai pelaku ujaran kebencian atau, ketika memberitakan kasus Moh Sodli meskipun media kritis terhadap penangkapannya Tapi masih banyak yang gagal ngeliat konteks ini secara lebih luas Dalam kasus Sodli, media bisa memperlihatkan ke kita gimana miskonsepsi soal ujaran kebencian, bisa menjadi senjata untuk membungkam kritik Media ga cukup kritis ke kasusnya aja Media harus mulai getol mengkritisi pasal-pasal bermasalah yang bisa jadi senjata untuk membungkam mereka juga Selain Muhamad Sodli kan ada juga kasus Muhamad Asrul, yang wartawan juga Harusnya keliatan kan nih, kalo wartawan juga rentan banget untuk kena Kalo udah kayak gini, harusnya mereka bisa berbuat lebih! Selain media, dunia akademi juga terus mereproduksi kesalahpahaman ini Untuk mengetahuinya lebih lanjut, kalian bisa cek artikel ini di website Remotivi Dengan adanya pasal bermasalah kayak gini warga akan jadi lebih takut untuk menyampaikan pendapat dan jurnalis bakal mudah dibungkam ketika mereka kritis Secara prinsip kan, ujaran kebencian ini ada untuk melindungi demokrasi kita dari bentuk-bentuk ekspresi yang destruktif Sayangnya Kesalahpahaman yang dilanggengkan oleh media cuma bikin kita semakin enggan berekspresi Teman-teman jangan lupa ya follow instagram @tokoremotivi. Di situ ada baju-baju bagus Nah. Loh. Bingung ya di mana ya. Loh di situ dia. Creepy juga ya Apaan si Ngomong benerin dulu napa Gajinya ga bakal naik juga Ih tapi keren juga bajunya Kalo mau liat di tokoremotivi aja Udah apa. Ga lucu. Serem tau. Serius. Serem. Ibu-ibu, coba suruh anak-anaknya ngumpet bu. Hati-hati banyak orang jahat.

Author:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *